Jumat, 29 Oktober 2010

Dialog Mesra Dengan Maut


Aku ketakutan...
Takut..
Takut..
Aku takut..

Aku malu..
Malu pada dosaku..

Aku malu..
Aku malu..

Aku malu..
Aku takut..
Aku hanya bisa tunduk..

Kumohon..
Tolong..
Aku takut..
Aku takut..

Aku tak ingin pergi sendiri..
Aku ingin beramal dulu..
Aku ingin memperbaharui syahadatku dulu..
Aku ingin bersimpuh di kaki Ibuku..
Aku mau membahagiakan orangtua ku..
Aku mau pergi dengan amalku..

Jangan! Jangan cabut dulu!
Jangan! Jangan datang dulu..!
Kumohon, berpura-puralah untuk lupa mencabut nyawaku!
Pergilah dulu menjemput nyawa-nyawa yang lain!
Tolong! Tolong!
Aku takut!

TIDAK!
TIDAK!
TOLONG! IZRAIL!
KUMOHON...
PERGILAH DULU SEJENAK..
PERGI!
Kembali nanti..
Kembali ketika aku sudah menuntaskan amalku!
Kumohon! Kumohon!

Ya Tuhan!
Kumohon..
Suruhlah Izrail untuk pergi dulu sampai aku siap!
Tolong!
Tolong!

“Allah sudah memberimu waktu di dunia untuk menuntaskan amalmu, namun, mengapa kau sia-siakan itu?”

Sudah!
Aku sudah berusaha!

“Apa kau yakin, kau sudah berusaha, bila nyatanya kau sekarang ketakutan dengan perjalanan menuju kehidupanmu yang sesungguhnya?”

Tidak...
Kurasa tidak..
Aku lupa..
Aku melupakannya..
Aku terlena..
Aku diambang paling atas akan kecintaanku pada dunia..
Lupa, lupa aku pada fananya dunia
Lupa.... lupa....

“Hai Manusia, aku tidak punya hak apa-apa untuk menangguhkan kematianmu ini... Aku hanya diberi kewajiban untuk menjemput ruhmu.. dirimu yang sesungguhnya..hanya itu.”

Tapi aku belum siap!
Aku belum siap!

“Sekali lagi aku hanya diperintah untuk menjemput ruhmu, akan kujemput ruhmu, hanya akan kujemput saja.”
Tapi kumohon!
Jemputlah aku dengan baik!
Jemput aku dengan mesra!
Jangan kau sakiti aku!
Jangan kau biarkan aku meraung ketika ruhku keluar dari jasadku..
Kumohon..!!

“Dari catatanku yang kudapat dari Raqib dan Atid... amal baik dan amal burukmu.. ... ...  “

Apa?! Bagaimana?!
Bagaimana??

AARRRGGGGGHHHHHHHHH!!!!
HAAAA... HAAAAAAAA..!!!!
ARGGGGHH AAA..GRRRHH..!

....
....
Hening.

“Maafkan aku manusia, aku tidak bisa memenuhi permintaanmu untuk kujemput dengan mesra, inilah caraku menjemputmu.. dan inilah cara paling termesra untuk menjemput manusia sepertimu. Dimana, amal burukmu lebih berat dibanding amal baikmu. Nikmatilah perjalananmu menuju kehidupan yang sesungguhnya. Ayo, lekas kita pergi. Neraka sudah merindukanmu.”


Sunyi.
Sepi.
Sendiri.

Hingga esok hari kutemukan aku di dalam tanah.
Mati.
Mati.
Tak berarti.
Lagi.