Sudah hampir dua tahun pergaulan itu. Aziz telah mulai bosan melihat istrinya. Karena di kota yang ramai dan bebas, kalau cinta itu hanya pada kecantikan, maka kecantikan seorang perempuan kelak akan dikalahkan pula oleh kecantikan yang lain. Perubahan perangai Aziz ketika mulai beristri adalah perubahan yang dibuat-buat. Perubahan yang dibuat-buat biasanya tidak tahan lama.
Yang lekas membosankan Aziz ialah tabiat Hayati yang tenang, yang tidak tahu merupakan gembira, yang terlalu keagama-agamaan. Keindahan pakaian dan bentuknya cara kota itu kurang disetujuinya.
Ada perempuan yang tak mempunyai haluan dalam hidupnya, hanya menurutkan bentuk dan gaya suami. Tetapi ada pula perempuan yang tetap pada pendiriannya, walaupun bagaimana haluan suaminya. Bagi Aziz ketika mulai kawin, bukan haluan, bukan perangai, bukan didikan Hayati yang jadi perkaranya, tetapi wajah yang cantik dan molek. Jadi nyatalah bahwa pada hakikatnya bukanlah Hayati jodoh Aziz, tetapi perempuan yang kekota-kotaan, yang mau sama-sama meminum seteguk air kelezatan dunia ini. Jodoh Hayati yang sejati, yang sama-sama lebih banyak tekur daripada tengadahnya, bukan orang lain, melainkan Zainuddin juga.
Buya Hamka
Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck
Bagian 20, Halaman 161