Sabtu, 26 Oktober 2013

Pesan Penting Untuk Malam Ini dari Tere Liye

"Tapi barangsiapa yang meletakkan cintanya di hati, mematuhi aturan main dan bersabar, maka semua kisah akan mekar bercahaya, wangi memesona."
- Tere Liye

Berbaik sangka terhadap manusia memang tidak bisa menjamin apa-apa. Tetapi berbaik sangka pada Allah pasti hati menjadi tenteram dan bahagia.

Tinggal pilih. Mau kejutannya menyenangkan apa meluluh lantakkan hati. 

Senin, 14 Oktober 2013

Renungan Pagi Buta

"Kita selalu menyimpan sesuatu yang amat berharga; yang hanya akan digunakan dalam situasi paling spesial. 

Nah, bukankah 'hati' kita ini juga amat spesial? Masa' iya, mau digunakan kapanpun, dimanapun, dengan siapapun. Berceceran perasaanya terlihat dimana-mana. Sama sekali tidak disimpan.

Seharusnya kita simpan kelak, saat waktunya sudah tepat, untuk seseorang yang paling istimewa."


-Tere Liye

Minggu, 13 Oktober 2013

Selepas Membaca Buah Pikiran Hamka

"Manusia tidak dapat menentukan nasibnya sendiri!"

Buya Hamka

Di Bawah Lindungan Kakbah
Bagian 10, Halaman 64



Baru saja aku menyelesaikan membaca Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck dan Dibawah Lindungan Kakbah. Tragedi. Itu yang bisa aku simpulkan.


Keduanya punya makna mendalam untuk hati yang dilandai gelisah akan apa yang orang sebut sebagai kasih tak sampai. Cinta tak harus saling memiliki, itu katanya. 


Didalamnya Hamka berpesan bahwa cinta itu bukan sekedar memiliki jiwa dan raga dari pujaan hati melainkan adalah hal yang indah dan agung, yang tak bisa kau raih nikmatnya begitu saja tanpa ada pengorbanan manis dan pelajaran yang bisa dipetik dalam perjalanannya. 


Zainuddin dan Hayati. Hamid dan Zainab. 

Kisah mereka begitu menyesakkan hati. Memperlihatkan betapa rumitnya urusan cinta mencintai antara dua insan. Selalu ada aral yang akan ditemui. Namun cara mereka menjaga kemurnian cinta yang tumbuh dalam hati mereka menjadi pesan utamanya.

Seperti apa yang dituliskan Hamka dibagian belakang buku Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck ;

"melukiskan suatu kisah cinta murni di antara sepasang remaja, yang dilandasi keikhlasan dan kesucian jiwa, yang patut dijadikan tamsil ibarat ."

Aku sendiri penasaran bagaimana kisahku nanti. Seringkali pikiran itu muncul dan menggenang dan berlarut-larut. 


Suatu kali Tere Liye berkata, "jangan diburu-buru karena nanti kau akan merusak kenikmatannya sendiri". Jadi jika pikiran itu muncul, aku kerap menepisnya supaya aku bisa benar-benar menikmaatinya ketika waktunya telah datang. Kapan? Ah, aku tidak mau memikirkannya. Aku selalu berkata pada diriku untuk selalu bersabar dan senantiasa memperbaiki diri. Jadi ketika waktunya datang, aku sudah siap dan pantas untuk itu.


Ah. Beberapa hari setelah tulisan ini aku lepas dan aku membacanya lagi, aku pasti akan mengernyitkan dahi. Aku menulis ini seolah aku sedang dilanda cinta. Tidak. Sungguh. Hanya saja sebagai wanita, pikiran macam ini pasti ada.


Ibuku sering khawatir karena ia tak pernah melihatku selayaknya wanita normal. Hahaha.

Iya, wajar saja. Lha wong selama ini aku tidak pernah sama sekali bercerita padanya atau menunjukkan padanya perihal lelaki. Mengungkit-ungkit soal cinta padanya pun tidak.
Aku terlalu malu untuk hal itu. 

Pagi ini, beliau menunjukkan kegelisahan itu lagi, kali ini saat bercerita pada pedagang kue di pasar ketika menanyakan perihal keluarga kami. 


Beliau dan kakak perempuanku, keduanya menikah di usia muda. Sedangkan aku sekarang sudah berusia 19 tahun, tapi kok ya belum pernah terlihat punya teman dekat. Aku merasa wajar atas kegelisahannya. Ya, maklum saja, jaman dulu, perempuan itu kalo sudah ranum pasti banyak dilirik oleh para jejaka. Jadi akan lebih baik jika segera dinikahkan. Mau tunggu apa lagi? Toh, perempuan tidak perlu mengenyam pendidikan tinggi jika kerjanya hanya bolak-balik dapur dan ranjang saja. Sekolah tinggi-tinggi hanya buang-buang uang dan waktu. 

Tapi itu dulu. 

Beliau juga mengerti dengan pilihanku dan memang menginginkan aku untuk bisa mengenyam pendidikan tinggi, jadi "orang" dan bisa meninggikan derajat keluarga. Ketika orang bertanya padanya perihal kapan anak tengahnya ini menikah, ia juga pasti menjawab. "Nanti aja. Biarin, fokus kuliah dulu." 


Keberpihakannya atas pilihanku sangat menenangkan batinku untuk bisa fokus kuliah dan mencapai cita-cita yang aku dambakan. Tapi ya namanya seorang Ibu, pasti kegelisahan seperti itu ada. Apalagi beliau sekarang sudah hampir setengah abad. Walaupun sudah merasakan menimang cucu dari kakak perempuanku, tapi ya pasti rasanya berbeda ketika bisa menimang cucu dariku. 


Aku bukan tak tertarik dengan lawan jenis. Ketertarikan itu ada dan aku mengalaminya. Hanya saja, aku tidak memilih untuk tenggelam dalam ketertarikan itu. Saat ketertarikan itu datang, aku mencoba melawan gravitasi yang muncul. Disimpan saja. Ceritakan saja pada Allah. Barangkali aku salah menilai ketertarikan itu. Mungkin itu hanya sekedar pekerjaan hormon atau malah pekerjaan setan yang memang hobi untuk membuai dan merayu manusia untuk mengecup syahwat yang ada dalam diri tiap manusia.


Tapi semua tidak terjadi secara kebetulan kan? Pasti ada maksud tertentu kenapa Allah sampai membiarkan ketertarikan itu hadir. Karena kita tak bisa menentukan nasib kita sendiri. Tangan Allah pasti selalu ada dan memeluk kita erat-erat. 


Ah. Pasti esok atau lusa saat aku membaca lagi tulisan ini aku akan merasa geli dan mungkin akan menghapusnya saking gelinya. 


Aku lama tidak menulis. Apalagi seeksplisit ini. Jarang sekali.

Ya, ini semua terjadi selepas aku membaca buah pikiran Hamka. Keinginan untuk menulis ini muncul diiringi sebuah kutipan yang terngiang ;

"Aku pun merasakan getaran yang sama. Getaran-getaran perempuan normal."
 - Abida El-Khalieqy, Geni Jora

Perkara Teman Hidup

Sudah hampir dua tahun pergaulan itu. Aziz telah mulai bosan melihat istrinya. Karena di kota yang ramai dan bebas, kalau cinta itu hanya pada kecantikan, maka kecantikan seorang perempuan kelak akan dikalahkan pula oleh kecantikan yang lain. Perubahan perangai Aziz ketika mulai beristri adalah perubahan yang dibuat-buat. Perubahan yang dibuat-buat biasanya tidak tahan lama.

Yang lekas membosankan Aziz ialah tabiat Hayati yang tenang, yang tidak tahu merupakan gembira, yang terlalu keagama-agamaan. Keindahan pakaian dan bentuknya cara kota itu kurang disetujuinya.

Ada perempuan yang tak mempunyai haluan dalam hidupnya, hanya menurutkan bentuk dan gaya suami. Tetapi ada pula perempuan yang tetap pada pendiriannya, walaupun bagaimana haluan suaminya. Bagi Aziz ketika mulai kawin, bukan haluan, bukan perangai, bukan didikan Hayati yang jadi perkaranya, tetapi wajah yang cantik dan molek. Jadi nyatalah bahwa pada hakikatnya bukanlah Hayati jodoh Aziz, tetapi perempuan yang kekota-kotaan, yang mau sama-sama meminum seteguk air kelezatan dunia ini. Jodoh Hayati yang sejati,  yang sama-sama lebih banyak tekur daripada tengadahnya, bukan orang lain, melainkan Zainuddin juga.

Buya Hamka
Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck
Bagian 20, Halaman 161

Jumat, 11 Oktober 2013

Beberapa Bulan yang Lalu. Klise.

Rasanya sama seperti waktu melihat Matahari.
Mungkin karena sudah lama merindukan Matahari.

Pertemuan singkat, tak disangka dan tak diharapkan memang selalu membuat hati berdesir.

Kata Rendra; Ia Gelap, Lembut dan Nakal

"Di hatiku alang-alang menancapkan akar-akarnya yang gatal
Serumpun alang-alang gelap, lembut dan nakal
"


-Rumpun Alang-Alang, WS Rendra


Aneh rasanya. Ini yang pertama semenjak kuncup kembang sepatu di halaman rumahku yang dulu merekah.

Tidak. Aku tidak bicara soal cinta.

Sabtu, 08 September 2012

Jijik

Seperti harus mencicipi semangka yang dilumuri oli dengan lidah telanjang.
Menyaksikan siaran langsung orang yang sedang buang hajat.
Masuk kedalam kubangan lumpur yang penuh kotoran ternak dan mengolesinya ke seluruh tubuh.
Seperti... mencium aroma busuk dari harmonisasi hasil ekskresi manusia dan hewan. 
Neraka? Bukan.