"Manusia tidak dapat menentukan nasibnya sendiri!"
Buya Hamka
Di Bawah Lindungan Kakbah
Bagian 10, Halaman 64
Baru saja aku menyelesaikan membaca Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck dan Dibawah Lindungan Kakbah. Tragedi. Itu yang bisa aku simpulkan.
Keduanya punya makna mendalam untuk hati yang dilandai gelisah akan apa yang orang sebut sebagai kasih tak sampai. Cinta tak harus saling memiliki, itu katanya.
Didalamnya Hamka berpesan bahwa cinta itu bukan sekedar memiliki jiwa dan raga dari pujaan hati melainkan adalah hal yang indah dan agung, yang tak bisa kau raih nikmatnya begitu saja tanpa ada pengorbanan manis dan pelajaran yang bisa dipetik dalam perjalanannya.
Zainuddin dan Hayati. Hamid dan Zainab.
Kisah mereka begitu menyesakkan hati. Memperlihatkan betapa rumitnya urusan cinta mencintai antara dua insan. Selalu ada aral yang akan ditemui. Namun cara mereka menjaga kemurnian cinta yang tumbuh dalam hati mereka menjadi pesan utamanya.
Seperti apa yang dituliskan Hamka dibagian belakang buku Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck ;
"melukiskan suatu kisah cinta murni di antara sepasang remaja, yang dilandasi keikhlasan dan kesucian jiwa, yang patut dijadikan tamsil ibarat ."
Aku sendiri penasaran bagaimana kisahku nanti. Seringkali pikiran itu muncul dan menggenang dan berlarut-larut.
Suatu kali Tere Liye berkata, "jangan diburu-buru karena nanti kau akan merusak kenikmatannya sendiri". Jadi jika pikiran itu muncul, aku kerap menepisnya supaya aku bisa benar-benar menikmaatinya ketika waktunya telah datang. Kapan? Ah, aku tidak mau memikirkannya. Aku selalu berkata pada diriku untuk selalu bersabar dan senantiasa memperbaiki diri. Jadi ketika waktunya datang, aku sudah siap dan pantas untuk itu.
Ah. Beberapa hari setelah tulisan ini aku lepas dan aku membacanya lagi, aku pasti akan mengernyitkan dahi. Aku menulis ini seolah aku sedang dilanda cinta. Tidak. Sungguh. Hanya saja sebagai wanita, pikiran macam ini pasti ada.
Ibuku sering khawatir karena ia tak pernah melihatku selayaknya wanita normal. Hahaha.
Iya, wajar saja. Lha wong selama ini aku tidak pernah sama sekali bercerita padanya atau menunjukkan padanya perihal lelaki. Mengungkit-ungkit soal cinta padanya pun tidak.
Aku terlalu malu untuk hal itu.
Pagi ini, beliau menunjukkan kegelisahan itu lagi, kali ini saat bercerita pada pedagang kue di pasar ketika menanyakan perihal keluarga kami.
Beliau dan kakak perempuanku, keduanya menikah di usia muda. Sedangkan aku sekarang sudah berusia 19 tahun, tapi kok ya belum pernah terlihat punya teman dekat. Aku merasa wajar atas kegelisahannya. Ya, maklum saja, jaman dulu, perempuan itu kalo sudah ranum pasti banyak dilirik oleh para jejaka. Jadi akan lebih baik jika segera dinikahkan. Mau tunggu apa lagi? Toh, perempuan tidak perlu mengenyam pendidikan tinggi jika kerjanya hanya bolak-balik dapur dan ranjang saja. Sekolah tinggi-tinggi hanya buang-buang uang dan waktu.
Tapi itu dulu.
Beliau juga mengerti dengan pilihanku dan memang menginginkan aku untuk bisa mengenyam pendidikan tinggi, jadi "orang" dan bisa meninggikan derajat keluarga. Ketika orang bertanya padanya perihal kapan anak tengahnya ini menikah, ia juga pasti menjawab. "Nanti aja. Biarin, fokus kuliah dulu."
Keberpihakannya atas pilihanku sangat menenangkan batinku untuk bisa fokus kuliah dan mencapai cita-cita yang aku dambakan. Tapi ya namanya seorang Ibu, pasti kegelisahan seperti itu ada. Apalagi beliau sekarang sudah hampir setengah abad. Walaupun sudah merasakan menimang cucu dari kakak perempuanku, tapi ya pasti rasanya berbeda ketika bisa menimang cucu dariku.
Aku bukan tak tertarik dengan lawan jenis. Ketertarikan itu ada dan aku mengalaminya. Hanya saja, aku tidak memilih untuk tenggelam dalam ketertarikan itu. Saat ketertarikan itu datang, aku mencoba melawan gravitasi yang muncul. Disimpan saja. Ceritakan saja pada Allah. Barangkali aku salah menilai ketertarikan itu. Mungkin itu hanya sekedar pekerjaan hormon atau malah pekerjaan setan yang memang hobi untuk membuai dan merayu manusia untuk mengecup syahwat yang ada dalam diri tiap manusia.
Tapi semua tidak terjadi secara kebetulan kan? Pasti ada maksud tertentu kenapa Allah sampai membiarkan ketertarikan itu hadir. Karena kita tak bisa menentukan nasib kita sendiri. Tangan Allah pasti selalu ada dan memeluk kita erat-erat.
Ah. Pasti esok atau lusa saat aku membaca lagi tulisan ini aku akan merasa geli dan mungkin akan menghapusnya saking gelinya.
Aku lama tidak menulis. Apalagi seeksplisit ini. Jarang sekali.
Ya, ini semua terjadi selepas aku membaca buah pikiran Hamka. Keinginan untuk menulis ini muncul diiringi sebuah kutipan yang terngiang ;
"Aku pun merasakan getaran yang sama. Getaran-getaran perempuan normal."
- Abida El-Khalieqy, Geni Jora
Buya Hamka
Di Bawah Lindungan Kakbah
Bagian 10, Halaman 64
Baru saja aku menyelesaikan membaca Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck dan Dibawah Lindungan Kakbah. Tragedi. Itu yang bisa aku simpulkan.
Keduanya punya makna mendalam untuk hati yang dilandai gelisah akan apa yang orang sebut sebagai kasih tak sampai. Cinta tak harus saling memiliki, itu katanya.
Didalamnya Hamka berpesan bahwa cinta itu bukan sekedar memiliki jiwa dan raga dari pujaan hati melainkan adalah hal yang indah dan agung, yang tak bisa kau raih nikmatnya begitu saja tanpa ada pengorbanan manis dan pelajaran yang bisa dipetik dalam perjalanannya.
Zainuddin dan Hayati. Hamid dan Zainab.
Kisah mereka begitu menyesakkan hati. Memperlihatkan betapa rumitnya urusan cinta mencintai antara dua insan. Selalu ada aral yang akan ditemui. Namun cara mereka menjaga kemurnian cinta yang tumbuh dalam hati mereka menjadi pesan utamanya.
Seperti apa yang dituliskan Hamka dibagian belakang buku Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck ;
"melukiskan suatu kisah cinta murni di antara sepasang remaja, yang dilandasi keikhlasan dan kesucian jiwa, yang patut dijadikan tamsil ibarat ."
Aku sendiri penasaran bagaimana kisahku nanti. Seringkali pikiran itu muncul dan menggenang dan berlarut-larut.
Suatu kali Tere Liye berkata, "jangan diburu-buru karena nanti kau akan merusak kenikmatannya sendiri". Jadi jika pikiran itu muncul, aku kerap menepisnya supaya aku bisa benar-benar menikmaatinya ketika waktunya telah datang. Kapan? Ah, aku tidak mau memikirkannya. Aku selalu berkata pada diriku untuk selalu bersabar dan senantiasa memperbaiki diri. Jadi ketika waktunya datang, aku sudah siap dan pantas untuk itu.
Ah. Beberapa hari setelah tulisan ini aku lepas dan aku membacanya lagi, aku pasti akan mengernyitkan dahi. Aku menulis ini seolah aku sedang dilanda cinta. Tidak. Sungguh. Hanya saja sebagai wanita, pikiran macam ini pasti ada.
Ibuku sering khawatir karena ia tak pernah melihatku selayaknya wanita normal. Hahaha.
Iya, wajar saja. Lha wong selama ini aku tidak pernah sama sekali bercerita padanya atau menunjukkan padanya perihal lelaki. Mengungkit-ungkit soal cinta padanya pun tidak.
Aku terlalu malu untuk hal itu.
Pagi ini, beliau menunjukkan kegelisahan itu lagi, kali ini saat bercerita pada pedagang kue di pasar ketika menanyakan perihal keluarga kami.
Beliau dan kakak perempuanku, keduanya menikah di usia muda. Sedangkan aku sekarang sudah berusia 19 tahun, tapi kok ya belum pernah terlihat punya teman dekat. Aku merasa wajar atas kegelisahannya. Ya, maklum saja, jaman dulu, perempuan itu kalo sudah ranum pasti banyak dilirik oleh para jejaka. Jadi akan lebih baik jika segera dinikahkan. Mau tunggu apa lagi? Toh, perempuan tidak perlu mengenyam pendidikan tinggi jika kerjanya hanya bolak-balik dapur dan ranjang saja. Sekolah tinggi-tinggi hanya buang-buang uang dan waktu.
Tapi itu dulu.
Beliau juga mengerti dengan pilihanku dan memang menginginkan aku untuk bisa mengenyam pendidikan tinggi, jadi "orang" dan bisa meninggikan derajat keluarga. Ketika orang bertanya padanya perihal kapan anak tengahnya ini menikah, ia juga pasti menjawab. "Nanti aja. Biarin, fokus kuliah dulu."
Keberpihakannya atas pilihanku sangat menenangkan batinku untuk bisa fokus kuliah dan mencapai cita-cita yang aku dambakan. Tapi ya namanya seorang Ibu, pasti kegelisahan seperti itu ada. Apalagi beliau sekarang sudah hampir setengah abad. Walaupun sudah merasakan menimang cucu dari kakak perempuanku, tapi ya pasti rasanya berbeda ketika bisa menimang cucu dariku.
Aku bukan tak tertarik dengan lawan jenis. Ketertarikan itu ada dan aku mengalaminya. Hanya saja, aku tidak memilih untuk tenggelam dalam ketertarikan itu. Saat ketertarikan itu datang, aku mencoba melawan gravitasi yang muncul. Disimpan saja. Ceritakan saja pada Allah. Barangkali aku salah menilai ketertarikan itu. Mungkin itu hanya sekedar pekerjaan hormon atau malah pekerjaan setan yang memang hobi untuk membuai dan merayu manusia untuk mengecup syahwat yang ada dalam diri tiap manusia.
Tapi semua tidak terjadi secara kebetulan kan? Pasti ada maksud tertentu kenapa Allah sampai membiarkan ketertarikan itu hadir. Karena kita tak bisa menentukan nasib kita sendiri. Tangan Allah pasti selalu ada dan memeluk kita erat-erat.
Ah. Pasti esok atau lusa saat aku membaca lagi tulisan ini aku akan merasa geli dan mungkin akan menghapusnya saking gelinya.
Aku lama tidak menulis. Apalagi seeksplisit ini. Jarang sekali.
Ya, ini semua terjadi selepas aku membaca buah pikiran Hamka. Keinginan untuk menulis ini muncul diiringi sebuah kutipan yang terngiang ;
"Aku pun merasakan getaran yang sama. Getaran-getaran perempuan normal."
- Abida El-Khalieqy, Geni Jora
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Kesempatan tidak akan datang dua kali. Bicarakan apa yang ingin dibicarakan.