Pikiran Arca kembali merangkak ke masa lalunya.
Hari ini tepat setahun Arimbi menghilang.
Arimbi menghilang tanpa jejak.
Lagu favoritnya ia biarkan menari-nari masuk ke telinganya, I Don’t Wanna Miss A Thing.
“Hmmmmhhh…”. Arca menghela napas panjang.
Dia begitu menancap dalam pikiran Arca.
Arimbi.
Gadis itu, mungkin terlihat biasa di mata orang lain.
Wajahnya pun tak secantik ratu sejagad, atau Zulaikha dalam kisah kenabian Islam itu. Atau istri Fir’aun, Asiyah.
Kulitnya pun tak seputih gadis-gadis bar, teman-teman kampus atau model-model iklan yang sering menawarkan diri untuk kencan dengan Arca.
Hidungnya tak sesempurna gadis-gadis berwajah plastik, yang sering bolak-balik ke dokter bedah plastik.
Tubuhnya pun tak seideal gadis-gadis silikon, yang rela menghabiskan uang puluhan juta rupiah untuk menyuntikkan silikon ke tubuh mereka.
Di mata Arca, Arimbi berbeda,orang boleh bilang dia tidak cantik.
Tapi Arimbi tidak munafik, bersih dan tidak busuk.
Banyak gadis cantik disekeliling Arca, wajahnya sempurna tak ada cacat, kulitnya putih mulus, tubuhnya ideal.
Sayangnya, semua itu palsu, hanya polesan bahan kimia.
Lipstik, foundation, bedak, maskara, pemutih wajah, silikon, bottox, dan semua bahan kimia.
Berkencan dengan mereka ibarat berkencan dengan bahan kimia, mencumbu mereka ibarat mencumbu cairan octyl methoxy cinnamate.
Menjijikkan. Wanita palsu.
Apalagi dengan sifat mereka sebenernya, sudah wajah palsu, sifatnya palsu pula. Munafik.
Tukang belanja, cerewet, gila perhiasan, tak punya identitas dengan mengikuti mode, suka gosip.
Tapi Arimbi berbeda.
Arimbi memiliki kecantikan yang terpancar dari matanya, dari kelembutannya saat berbicara, dia sederhana, penyayang, sopan dan santun…
“Aaahhhh!!!”. Arya berteriak dan bangkit dari posisi rebahnya.
Ia duduk, menekuk lutut.
Setetes air mulai membasahi pipinya. Diikuti tetes-tetes berikutnya.
Mengalir tanpa bisa ia cegah.
Arca tak mengerti.
Ia ingin menampar dirinya sendiri.
Ia ingin berteriak dan memaki dirinya sendiri.
“Mengapa aku bisa mencintai seorang Muslim?! Aaaaaargh! Dan mengapa engkau adalah seorang Muslim?!” ia berteriak.
Kemudian ia benamkan wajahnya di kedua lututnya. Menangis lagi.
Arca sungguh tak mengerti.
Mengapa ia begitu melankolis semenjak kepergian Arimbi.
***
“Sudahlah Mi. Buat apa dipikirkan lagi. Aku akan baik-baik saja. Aku janji tidak akan pernah meninggalkan hafalanku. Terus berdzikir dan senantiasa menjaga hijabku.” Shafa menggenggam tangan Umminya mencoba meyakini.
“Bukan itu nak, bukan itu…” Umminya terhenti. Ekspresinya begitu datar. Menghela napas, kemudian beranjak dari duduknya, berjalan masuk ke kamar.
“Pasti karena peristiwa itu.” ucap Shafa dalam hati.
Shafa diam, membuka laptopnya, kemudian kembali membuka lembar CV yang harus ia lengakapi dan kirimkan sebelum jam 23.23.
Shafa tak main-main, ia benar-benar sudah mengazzamkan dirinya untuk melamar kerja di TechnoMillenia Corporation. Ia serius.
Bersambung ke Bagian 3
