Untuk,
Seseorang yang mengenalkan aku dengan daya magis kata-kata.
Seseorang yang mengajarkanku akan semangat hidup dan keberanian.
Seseorang yang mengajarkan aku bahwa aku bisa menjadi luar biasa.
Seorang motivator hidup yang selalu hidup dalam lembaran perjalananku sebagai seorang anak manusia.
Seorang Pahlawan.
Namamu memang tak terpatri dalam buku Pahlawan Nasional.
Tapi, namamu tetap terpatri dihatiku.
Kau adalah,
Fauziah.
Ibu Fauziah, begitu aku biasa memanggilmu.
Aku teringat bagaimana ketika engkau memberiku penghargaan atas nilai ulanganku dalam mata pelajaranmu.
Aku teringat saat kau memintaku dengan sangat untuk mengikuti kejuaraan cerdas cermat Bahasa Indonesia.
Aku teringat, wajah beningmu, yang meneteskan air mata saat membaca cerpenku.
Aku takut, aku bingung.
Mengapa engkau menangis?
Tapi kini aku mengerti,
Aku mengerti.
Kisahku dalam cerpen itu…
Mengenai seorang guru yang terkena leukimia, dan harus berpisah dengan murid-muridnya menuju alam baka.
Dan kau pun dulu, saat menangis.. itu pasti karena kau sedang mengalaminya. Kau dulu pasti menangis karena kau sedang tervonis penyakit yang amat berat.
Dan kini…
Aku harus menerima, bahwa kau sudah tiada.
Bahwa aku tak bisa lagi berbicara denganmu,
Bahwa aku tak bisa melihat senyummu lagi.
Ibu,
Aku hanya ingin menyampaikan satu hal yang belum sempat terucapkan,
Aku mencintaimu
In Memoriam : Hj. Fauziah
kakak jd pgn deh diajarin sama beliau, kakak blom sempet diajarin beliau
BalasHapussai... Mengharukan bgt sih ceritanya :'''()
BalasHapus